Late Night Thoughts (episode 1)
Ternyata hal yang selama ini terlalu aku khawatirkan tidak
semenyedihkan itu. Momen yang dulu aku kira akan membuatku lebih sakit dan
tidak terima ternyata menjadi hal yang sangat menyenangkan. Pencapaian orang
lain terkadang membuatku merasa jengkel dan muncul perasaan tidak senang. Aku sering
lupa untuk belajar mengapresiasi pencapaian orang lain. Bukan hal yang mudah
ditambah lagi diusia yang mulai menginjak kepala dua. Banyak sekali kerabat dan
teman dekat yang satu persatu mulai mencapai impiannya. Hal yang sangat
sensitif sekali untuk melihat pencapaian seseorang. Lulus dari sekolah, naik
gaji, naik jabatan, rumah baru, mobil pribadi, menikah, berbisnis dengan
pasangan dan masih banyak lainnya. Hal-hal yang mulai familiar untuk aku lihat
dan aku dengar. Tapi yang sering aku lupa adalah mengapresiasi apa yang mereka
capai. Aku sering lupa untuk turut berbahagia dengan hal itu. Mungkin untuk
sebagian orang akan terasa aneh tapi setelah aku pikir-pikir turut berbahagia
dan mengapresiasi apa yang mereka capai ternyata menyenangkan. Namun hal itu harus
aku mulai dari diriku sendiri. Jika aku mempu untuk melakukan hal itu terhadap
diriku sendiri tentunya akan berhasil saat aku melakukannya kepada orang lain. Aku
yang awalnya berpikir bahwa hidupku sangat tidak menarik dan mungkin sangat
tidak ada apa-apanya berubah menjadi aku yang mampu mengapresiasi diriku
sendiri atas apa yang telah aku dapatkan sampai saat ini. Aku mencoba untuk
menerapkannya dikehidupan sehari-hari. Aku memulai dengan mengirimkan pesan
singkat kepada salah satu teman yang mulai terjun ke dunia bisnis, berlanjut memberikan
ucapan selamat kepada teman-teman yang mulai memasuki dunia pernikahan, dan sampai
akhirnya aku bisa memberikan ungkapan bahagia kepada teman-temanku yang sudah
lulus kuliah. Awal aku memulai, aku hanya berpikir bahwa “Yasudah, kan aku
sudah memberinya selamat. Itulah gunanya teman.” Dan setelah aku banyak belajar
dan mulai merasakan efeknya ternyata itu semua tidak hanya sekedar ucapan bagi
mereka. Mereka merasa dihargai atas apa yang sudah mereka lakukan selama ini
dan dari sanalah pikiran “gunanya teman” akhirnya berubah menjadi “Dia
hebat, apa yang dia dapatkan saat ini semua adalah usaha dan jatuh bangunnya. Apa
yang dia dapat saat ini memang patut untuk diapresiasi dan aku turut bahagia
dan bangga dengan dia”. Iya. Proses untuk sampai disitu membutuhkan waktu
yang sangat lama untuk aku. Aku sadar bahwa aku hanya manusia yang juga merasa
selalu kurang dan kurang dan selalu ingin yang lebih dari orang lain. Ego yang benar-benar
berhasil mengontrol aku perlahan aku ubah. Aku yang akan mengontrol semua ego yang
muncul pada diriku. Aku tidak ingin lagi termakan oleh egoku sendiri. Setiap orang
punya kemampuan dan batasnya masing-masing. Apapun yang aku dapatkan saat ini
tentu akan berbeda dengan orang lain. Namun bukan berarti apa yang aku dapatkan
tidak ada artinya. Semua punya nilainya masing-masing. Turut berbahagia dengan
pencapaian orang lain adalah sikap menuju dewasa menurutku. Aku bisa merasakan
apa yang mereka rasakan dan bisa benar-benar ikut berbahagia dengan apa yang
mereka capai ternyata menyenangkan dan secara tidak langsung memberikanku
energi yang baik untuk diriku sendiri. Sudah bukan lagi menjadikan hal itu untuk
kompetisi siapa yang menang dan siapa yang lebih dulu selesai namun aku menjadikan
hal tersebut energi baik untuk aku supaya aku bisa mencapai hal-hal baik yang
selama ini sudah aku rencanakan. Kamu hebat, Teman. Kamu sudah melakukan yang
terbaik selama ini. Terima kasih sudah bekerja keras dan berjuang sejauh ini. Aku
sangat mengapresiasi semua kerja kerasmu dan aku turut berbahagia atas apa yang
sudah kamu capai, Teman.


Komentar
Posting Komentar