PEMBUNUHAN NORTHVILL
KRIII....NG!!!.
“Hallo? Ada apa, Bos?”. Seketika aku terbangun dan melihat layar handphoneku
dan ternyata itu Bosku. “Alisha segera temui saya di kantor! Ada hal yang harus
saya bicarakan dengan kamu”. Jam menunjukkan ini masih pukul 06.00 pagi,
sedangkan aku biasanya memulai bekerja pukul 08.00 pagi. Aku tidak tahu apa
yang akan Robbin katakan padaku. Tidak biasanya dia menyuruhku untuk segera
datang ke kantor sepagi ini. Aku bekerja sebagai social service di Lembaga Perlindungan, khususnya anak. Lembaga
tempatku bekerja adalah Lembaga yang bekerja sama dengan Kepolisian setempat.
Mereka selalu meminta Lembaga kami untuk membantu mencari kebenaran tentang apa
yang sedang terjadi. Tidak hanya bertugas untuk melindungi pihak yang menjadi
korban namun, kami juga sedikit menginvestigasi apa yang sedang terjadi.
Dengan
terburu-buru dan tidak sempat sarapan, aku bergegas langsung ke kantor dan
menemui Robbin. Tak butuh waktu lama hanya sekitar 20 menit dengan mobil dari
rumahku. Sesampainya di sana, aku bisa melihat Robbin yang gelisah dan berjalan
mondar-mandir di ruangannya.
“Hai,
Robbin. Ada apa? Ini masih sangat pagi dan tidak seperti biasanya”. Tanyaku
dengan penasaran.
“Oh..Hi,
Alisha. Maafkan aku sudah menelfonmu pagi sekali. Aku harus mengatakan ini
kepadamu sebelum kantor dipenuhi banyak orang”. Jawabnya dengan nada rendah.
“Katakan saja apa yang terjadi?”. Aku sangat penasaran dengan apa yang sedang
terjadi.
“Apa
kamu ingat kasus Johnson 7 tahun yang
lalu?”. Tanyanya kepadaku dengan hati-hati. “Kasus Johnson? Tentu
saja!. Aku tidak mungkin lupa dengan kasus itu. Kenapa? Bukankah kasus itu
sudah ditutup?”. Tentu saja aku sangat terkejut dan tidak akan pernah melupakan
kasus itu. Kasus Johnson adalah kasus pembunuhan yang terjadi di salah satu
rumah di Northville.
Seorang
suami yang diduga membunuh istrinya sendiri dan di saksikan anak kandungnya
yang masih berumur 8 tahun. Kasus itu sudah ditutup oleh Departemen Kepolisian.
Kasus itu ditutup karena tidak ada bukti kuat yang menjelaskan bahwa Johnson
membunuh istrinya. Namun apa yang terjadi saat ini? Hingga membuat atasanku
menelfon dan menanyakan hal itu padaku.
“Kepala
Departemen Kepolisian menemuiku kemarin malam di sebuah kafe langgananku dan
tiba-tiba menyuruhku untuk menugaskanmu kembali ke Northville. Kasus Johnson
dibuka kembali oleh Kepolisian”.
“Apa?
Kasus Johnson kembali dibuka? Apa lagi yang harus aku lakukan di sana? Johnson
sangat membenci kedatanganku untuk bertemu anaknya, Louis”. Tanyaku tanpa
henti.
Louis
adalah anak Johnson yang diduga menjadi satu-satunya saksi yang melihat Ayahnya
membunuh Ibunya. Tujuh tahun lalu aku adalah social service yang nangani kasusnya. Aku ditugaskan bertemu dan
berbicara dengan Louis karena tentu dia mengalami trauma yang serius karena
menyaksikan pembunuhan. Namun, Louis yang saat itu masih berusia 8 tahun hanya
diam saja dan tidak mau mengatakan apa yang terjadi di sana. Sampai kasus ini
ditutup Louis tetap tidak mengatakan apa yang telah di lihatnya. Robbin
akhirnya mengakhiri sesi pertemuanku dengan Louis dan karena sang Ayah sangat
marah saat megetahui kami mencoba mengintrogasi anaknya.
Dan
hari ini, pagi ini Robbin mengatakan kepadaku untuk kembali bertemu dengan
Louis dan mencoba berbicara dengannya setelah 7 tahun kasus itu terjadi. Aku
tidak tahu apa yang akan aku katakan dan harus memulai dari mana. Departemen
Kepolisian berharap Louis bisa bekerja sama dengan kami dan mencari tahu siapa
pembunuh Ibunya. Robbin sangat berharap aku bisa membuat Louis berbicara dan
mengungkapkan apa yang telah di lihatnya 7 tahun yang lalu. Namun sebenarnya
aku tidak siap untuk bertemu Louis maupun Johnson. Aku tidak tahu apa yang akan
aku katakan dengan kedatanganku kembali ke rumah mereka. aku benar-benar
berusaha menyiapkan diri untuk datang kembali ke Northville.
Keesokan
paginya aku bersiap-siap untuk kembali ke sana dan semoga saja hasilnya tidak
mengecewakan. Semoga Johnson tidak mengusirku seperti yang terjadi 7 tahun
lalu. Aku berangkat sekitar pukul 10.00 pagi dan memakan waktu sekitar 1 jam
dari rumahku. Hari ini jalanan tidak begitu ramai jadi aku bisa tiba di
Northville lebih cepat dari dugaanku. Setibanya di sana aku tidak melihat
banyak perubahan yang terjadi setelah sekian lama. Namun siang itu tampak sepi
di daerah itu. Aku tidak yakin jika mereka masih tinggal di Northville. Kuberanikan
diri untuk mengetuk pintu rumah Johnson dan menunggu adanya respon.
Tidak
menunggu lama ternyata rumah itu masih berpenghuni dan ternyata Johnson masih
tinggal di situ. Dia membuka pintu dan terlihat sangat-sangat terkejut. Raut
wajah yang sama seperti 7 tahun yang lalu.
“Alisha?
Kamu social service itu kan? Ada apa
kamu datang kemari? Aku tidak butuh jasamu!”. Belum sempat aku berkata, Johnson
sudah menodongkan banyak pertanyaan yang belum sempat juga aku jawab.
“Hai,
Tuan Johnson. Ya, benar aku Alisha dari social
service. Aku datang kemari ingin berbicara dengan Anda dan Louis”. Akhirnya
aku bisa menjawab semua pertanyaan itu. Bukan pekerjaan yang mudah memang.
Terutama jika harus berurusan dengan kasus pembunuhan.
“Tidak!.
Aku tidak butuh jasamu. Aku sudah hidup damai dengan Louis sekarang. Tolong
jangan ganggu kehidupanku dan anakku”. Jawab Johnson dengan nada keras dan
tidak mengizinkan aku berbicara dengan mereka. Dia benar-benar kesal dengan kedatanganku.
Tiba-tiba
terdengar suara anak laki-laki dari dalam, aku tahu itu Louis.
“Ayah.
Siapa itu? Bolehkah aku bertemu dengan dia?”. Benar! Itu Louis dan dia ada di
dalam sana. Aku sangat senang mendengar suaranya lagi setelah sekian lama.
“Hai,
Louis. Ini aku Alisha. Kamu ingat?”.
“Ya.
Aku masih ingat denganmu Alisha. Kamu yang pernah merawatku beberapa waktu
dulu. Sudah sangat lama aku tidak melihatmu lagi”.
Aku
sangat bahagia mendengar ucapannya. Membuat hatiku sangat hancur karena aku
harus bertemu dengannya di keadaan yang sangat buruk. Tapi sekarang dia sudah
menjadi anak laki-laki yang tampan dan sangat ramah. Namun seketika Johnson
menarik Louis untuk masuk dan menutup pintu tanpa mengatakan sepatah kata pun
kepadaku. Lalu aku putuskan untuk kembali ke kantor dan berbicara dengan
Robbin. Semoga saja dia bisa mengerti apa yang sedang terjadi.
Setibanya
di kantor aku tidak langsung menemui Robbin. Aku memutuskan untuk makan siang
di kafe dekat kantor sambil memikirkan cara apalagi yang harus aku lakukan agar
Johnson mengizinkan aku bertemu dan berbicara dengan Louis. Tanpa sadar Robbin
sudah duduk di hadapanku dan mengagetkanku.
“Alisha!
Hei!. Kenapa kamu melamun? Bagaimana pertemuanmu dengan Johnson?”. Robbin
benar-benar mengagetkanku dan membuyarkan bayanganku.
“Robbin?
Kamu mengagetkanku!. Apa yang kamu lakukan?”.
“Ini
tempat makan favoritku, lalu aku tidak sengaja melihatmu di sini”.
“Oh!.
Aku tidak tahu ini tempat favoritmu. Aku hanya makan siang dan memikirkan cara
untuk bertemu dengan Louis. Sebelum kamu bertanya lagi, ya benar. Aku gagal
berbicara dengan Louis”. Dengan nada sedih dan tidak tertarik namun harus aku
jawab pertanyaannya.
Akhirnya
aku ceritakan semuanya kepada Robbin apa yang baru saja terjadi dengan ku.
Untunglah Robbin tidak marah dan mengerti dengan keadaanku hari ini. Memang
berat untuk memulai kembali kasus yang sudah lama terlewatkan. Hari yang sangat
berat bagiku dan seluruh tim yang terlibat kasus Johnson ini. Robbin
mengizinkan aku untuk kembali pulang dan beristirahat dan melanjutkan rencana
besok pagi.
Sesampainya
di rumah aku mandi dan hanya minum coklat panas dan bersantai di sofa. Tak lama
kemudian tiba-tiba handphoneku berbunyi dan nama Robbin ada di layar. Betapa
terkejutnya aku mendengar kabar dari Robbin bahwa Johnson menelfon dan
mengatakan bawa Louis ingin berbicara dengan aku dan Johnson juga ingin bertemu
dengan Robbin dan Kepala Departemen Kepolisian, Mitch. Sangat senang mendengar
kabar ini dan tidak sabar ingin segera bertemu Louis besok di kantor.
Sekitar
jam 07.30 pagi aku sudah tiba di kantor dan segera masuk ke ruanganku untuk membereskan berkas yang berantakan. Kemudian Robbin
memanggilku untuk segera ke ruangan introgasi untuk menemui Louis dan Johnson. Bisa
kulihat di sana Louis yang kini sudah beranjak remaja dan Johnson seorang
orangtua tunggal yang berhasil merawat Louis. Aku meminta Johnson untuk meninggalkan
aku dan Louis untuk berbicara. Kali ini Johnson tidak menolak ataupun marah.
Sepertinya Johnson ingin bekerja sama kali ini.
“Hai,
Louise. Kamu ingin bicara?”.
“Oke
Alisha. Aku akan mengatakan yang selama ini terjadi, yang selama ini aku tahu.
Aku tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun. Bahkan kepada Ayahku. Dan
hari ini aku akan mengatakan semuanya kepadamu.” Louise mengatakan dengan
sangat hati-hati dan tidak ingin orang lain tahu.
“Apa
kamu baik-baik saja membicarakan langsung hal ini? Aku tidak akan memaksamu
untuk bercerita”. Ku perjelas perkataanku.
“Aku
baik-baik saja. Tenang saja. Semua berawal di malam dengan hujan yang sangat
deras. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku, jika itu Ayah tidak mungkin
dia mengetuk pintu rumahnya sendiri. Aku tahu itu bukan Ayah dan aku memutuskan
untuk melihat dari tangga dan benar itu bukan Ayah. Aku tahu orang ini, dia
adalah teman orang tuaku. Aku pernah bertemu dengan dia di suatu acara teman
Ayah. Dan dia datang malam itu dan aku mendengar dia sedang mencari Ayahku dan
Ibuku mengatakan bahwa Ayahku belum kembali dari kerja dan orang ini memaksa
masuk memanggil nama Ayah dengan nada sangat marah. Lalu Ibuku meneriaki pria
ini dan memintanya untuk pergi dari rumahku sebelum polisi datang, Ibuku
mengancam pria itu agar dia pergi dari rumah. Tapi yang dilakukan orang ini
adalah dia memukul dan mendorong Ibuku hingga terjatuh lalu kepalanya terbentur
meja dan lantai. Aku tidak melihat Ibuku bergerak dan pria itu tanpa peduli
dengan apa yang terjadi dia langsung meninggalkan rumahku dan aku takut untuk
turun menemui Ibuku. Untunglah tak lama Ayahku datang dan sangat terkejut
dengan apa yang terjadi dan ternyata Ibuku sudah meninggal dan tiba-tiba polisi
datang membawa Ayahku dan sampai akhirnya kamu datang untuk membawaku. Aku
tidak tahu siapa nama pria itu tapi aku tahu ciri-cirinya”. Jelas Louis dengan
sedih dan sangat menyesal karena baru memberitahukan hal ini sekarang.
Aku
tidak bisa berkata apa-apa. Aku benar-benar tidak tahu harus apa. Aku langsung
memanggil Robbin untuk meminta bantuan dari tim Mitch. Meminta timnya untuk
membantu menggambar sketsa wajah yang diketahui Louis, pembunuh Ibunya. Tidak
lama setelah Robbin menelfon Mitch, tim datang dan langsung ku antar untuk
menemui Louis dan segera membantunya untuk mengetahui siapa pembunuhnya.
Tidak
butuh waktu lama bagi tim Departemen Kepolisian untuk menyelesaikan sketsa
wajah sang pembunuh. Louis sangat yakin dengan hasil sketsa wajah yang sudah diselesaikan
oleh tim. Aku sangat berharap sketsa wajah ini akan menuntun kami kepada sang
pembunuh ini. Kasus yang sudah sangat lama dan tentu Johnson sangat ingin tahu
siapa pembunuh istrinya.
Aku
meminta Robbin untuk mengajak Johnson ke ruang introgasi dan melihat hasil
sketsa yang telah selesai. Tidak ku sangka Johnson akan sangat terkejut dengan
wajah yang ada di sketsa itu. Dan dia menjadi sangat marah dan sangat tidak
terkendali. Johnson menanyakan hal ini kepada Louis.
“Louis,
kamu yakin dengan orang yang kamu lihat malam itu?.”
“Aku
sangat yakin, Yah. Aku kenal dengan pria itu saat Ayah mengajak aku dan Ibu ke
acara teman Ayah. Dan dialah yang aku lihat malam itu. Aku minta maaf karena
aku tidak menceritakan hal ini pada Ayah. Aku takut Ayah akan marah dan hilang
kendali dan melakukan hal gila”. Jelasnya penuh sesal.
“Anda
kenal dengan pria ini Tuan Johnson?”. Tanya Robbin hati-hati.
“Wilson.
Wilson Writcher. Dia adalah teman yang aku kenal dari acara salah satu temanku.
Aku dan istriku dekat dengan Wilson karena dia selalu membantu saat keluargaku
sedang dalam masalah. Aku ingat! Malam itu Wilson bilang akan datang menemuiku
untuk mengambil uang yang aku pinjam kepadanya. Istriku tidak tahu apa-apa
tentang hal ini dan dia sudah membunuh istriku yang tidak bersalah! Kalian
harus menemukan dia! Secepatnya!. Nadanya semakin tinggi dan semakin tidak
terkendali.
Tanpa
menunggu lama, tim Departemen Kepolisian langsung mencetak sketsa yang lebih
baik dan terlihat jelas kemudian lansung menyebarkan keseluruh sudut kota.
Tidak terkecuali. Bahkan daerah terpencil dan kumuh semua terpasang wajah
Wilson Writcher agar para warga segera melaporkan jika melihat sosok Wilson
ini. Departemen Kepolisian dan Lembaga tempatku bekerja sangat berharap dengan
tersebarnya sketsa wajah Wilson ini akan mempercepat penyelidikan. Hal yang
sama tentu sangat diharapkan oleh Johnson dan Louis yang selama ini ingin
mengetahui siapa pembunuhnya.
Tidak
secepat yang kami kira, yaitu tiga hari. Masih belum ada laporan yang masuk dan
tim telah memperbarui sketsa untuk di sebarkan kembali. Namun setelah seminggu
setelah penyebaran pertama pihak Kepolisian mendapat laporan dari petugas
keamanan bandara yang mengatakan melihat seseorang yang mirip dengan sketsa dan
tampak mencurigakan sedang menunggu check
in. Dengan sigap Mitch dan tim meluncur ke bandara dan menggunakan tak tik
menyamar agar tidak membuat penumpang lain dan Wilson ketakutan dan melakukan
hal gila.
Saat
Wilson mulai bergerak untuk melakuan check
in tim yang menyamar dengan cepat memojokkan Wilson dan membuatnya tidak
bisa bergerak dan bergegas membawa ke kantor untuk introgasi lebih lanjut.
Setibanya
di ruang introgasi Mitch dan Robbin memberikan beberapa pertanyaan untuk Wilson
mengenai apa yang terjadi dengan keluarga Johnson.
“Tuan
Wilson, perkenalkan saya Mitch kepala Departemen Kepolisian dan ini Robbin dari
Lembaga Perlindungan. Tolong jelaskan apa yang terjadi 7 tahun lalu di rumah
Tuan Johnson!”.
“Apa-apaan
ini! Aku tidak melakukan apa-apa di rumah Johnson. Kenapa aku harus
diperlakukan seperti ini?”. Jawabnya dengan sangat kesal.
“Lalu
apa yang Anda lakukan di bandara?”. Tanya Robbin.
“Aku
ingin mengunjungi salah satu temanku, apa itu salah?!”.
“Tidak,
tapi Anda adalah tersangka pembunuhan istri Tuan Johnson. Anda datang malam itu
dengan kesal mencari Tuan Johnson, namun yang Anda temui adalah istrinya dan
Anda semakin kesal karena istrinya, Lisa mengusir Anda untuk pergi dari rumahnya.
Lalu Anda semakin marah dan mendorong tubuh Lisa kemudian memukul wajahnya
hingga tubuhnya terjatuh dan kepalanya terbentur meja dan lantai hinggal
meninggal. Ya, itu pembunuhan Tuan Wilson”. Jelas Robbin dengan sangat tegas.
“Ta...pp.ii...
aku tidak tahu jika apa yang sudah aku lakukan pada Lisa bisa membunuhnya, aku
benar-benar tidak tahu dia meninggal setelah apa yang aku lakukan”. Jelas
Wilson dengan menyesal.
“Anda
di tahan atas kasus pembunuhan yang terjadi 7 tahun lalu di Northville. Katakan
semuanya kepada hakim”. Mitch segera memborgol dan membawanya ke kantornya dan
segera di tindak lanjuti oleh pengadilan wilayah Northville.
Setelah
sekian lama tanpa kepastian akhirnya Johnson dan Louis mendapatkan keadilan
untuk istinya, untuk Ibunya. Kini Johnson dan Louis bisa menjalankan kehidupan
yang lebih tenang tanpa harus di hantui oleh masa lalu yang kelam. Terutama
bagi Louis, dia tidak akan membawa rasa bersalahnya lagi atas kematian Ibunya.
Keadilan akan tiba untuk orang-orang yang telah berjuang.


Komentar
Posting Komentar