Love Your Self First
Hai…
apa kabar kalian semua? Setelah berbincang dengan diri sendiri beberapa menit,
terbesit pengen bahas tentang self-love. Milenial pasti tau banget tentang hal
ini karena sering banget dibahas di sosial media dan berbagai acara anak muda.
Menurut kalian apa sih self-love itu?. Menurut aku self-love ini lebih ke arah
bagaimana kita bisa mencintai diri sendiri dan menerima diri kita sendiri.
Menerima semua kelebihan dan kekurangan yang ada di diri kita. Awalnya sangat
sangat tidak mudah buat aku untuk akhirnya bisa berada di fase ini. Banyak
banget tentunya masalah-masalah yang aku lewatin. Masalah yang terjadi ngga
cuma masalah personal atau pribadi aja, justru banyak banget konflik dari luar
dan itu menyangkut banyak orang. Mungkin memang ada benarnya dari kata-kata
“suatu masalah akan mendewasakanmu”. Aku pribadi setuju sama hal ini. Kenapa?
Karena setelah aku flash back sedikit pengalaman-pengalaman aku yang dulu-dulu,
bisa dibilang pengalaman itulah yang membuat aku bisa ada di posisi saat ini.
Aku
dulu orang yang selalu pengen coba hal baru yang orang lain lakuin yang itu
sama sekali bukan aku. Selalu pengen buat ngikutin style “pada jamannya”, pergi
ke tempat yang orang-orang rame datengin, sampe brand “kekinian” yang selalu
harus aku punya biar sama kaya yang lain. Kalau sekarang dipikir-pikir itu
emang udah “sakit” banget sih. Sakit yang aku maksud disini adalah kita selalu
berusaha pengen seperti orang lain dan selalu pengen melebihi mereka. Padahal
itu bener-bener nggak sehat banget. Bahkan dulu aku sampai harus marah dan
murung beberapa hari di kamar biar mami aku mau beliin aku sandal dan sepatu
yang lagi tren jaman SMP. Setiap ketemu sama temen selalu bingung mau pakai
baju apa, warna apa, kerudungnya mau gimana. Semua itu buat menunjukkan kesan
aja ke mereka, like sekedar memuaskan mereka aja dan tentunya memuaskan ego
kita. Aku seringkali merasa situasi itu bukan aku banget dan aku cuma berusaha
untuk jadi orang lain.
Semakin
bertambahnya umur, mulai masuk SMA yang dimana ini salah satu sekolah SMA
Swasta favorit semua makin kerasa. Teman-teman yang aku kenal semuanya
menunjukkan segala yang mereka punya. Sempat ngerasa down dan malu karena apa
yang aku punya nggak sama kaya apa yang mereka punya. Tapi untungnya semakin
berjalannya waktu aku tau satu-satu teman yang bisa ku anggap teman dan aku
nyaman sama mereka tanpa harus memikirkan status sosial karena mereka pure mau
berteman sama aku. Pelan-pelan mulai balik lagi kepercayaan diriku setelah aku
dipilih untuk jadi anggota inti kepramukaan di sekolah dan dipercaya buat
bantuin kakak senior ngurusin segala acara. Banyak teman dan beberapa guru yang
akhirnya menyadari keberadaanku, support aku samapai mempercayakan aku. Sampai
akhirnya punya cowok yang juga selalu support hal positif yang aku lakuin.
Selama
aku SMA juga nggak semulus itu perjalanan aku. Banyak banget yang namanya
masalah dan konflik antara aku sama satu orang aja dan antara aku sama
sekelompok orang. Entahlah, mungkin setiap permasalahan yang akhirnya
terselesaikan oleh diriku sendiri yang akhirnya membuat aku bisa keep going dan
bisa bangga sama diri aku sendiri. Aku nggak pernah berhenti untuk bilang
terima kasih ke diri aku sendiri dan aku selalu bangga dengan apa yang udah aku
lewatin. Sampai akhirnya aku beranjak ke kelas 12 dan mulai ldr sama cowok aku,
aku merasa aku harus semakin kuat dan harus bisa ngejalanin apa-apanya sendiri
tanpa harus merepotkan orang lain atau bahkan dia. Satu persatu masalah yang
datang aku hadapin pelan-pelan sendirian dan berusaha menerima kenyataan kalau
memang di dunia ini ada 2 hal, ya kalau nggak disenangi yang dibenci. Hal yang
wajar dan normal memang. Aku bukan orang yang sempurna untuk siapa-siapa lalu
kenapa orang lain harus selalu suka sama aku?. Semenjak aku belajar hal itu aku
pelan-pelan bisa semakin mengenal siapa diri ku, apa kelebihan dan
kekuranganku, dan apa yang harus aku ambil untuk kedepannya.
Kakak
kelas alumni yang mampir ke kantin sekolah selalu mengingatkanku dengan hal
“kejamnya dunia perkuliahan”. Bisa dibilang mereka memang sengaja memberi
wejangan tentang hal itu karena mereka benar-benar merasakan perbedaan waktu
SMA dengan kuliah. Mereka yang selalu mengingatkan jangan manaruh harapan atau
kepercayaan sama siapapun. Teman yang ada di kampus hanya sebatas “teman” yang
kapanpun bisa menyakiti. Aku selalu ingat hal-hal yang dikatakan kakak kelas
alumni sampai aku merasakan bagaimana bangku kuliah. Benar saja!. Aku tidak
bisa mempercayai siapa-siapa selain diriku sendiri. Tapi aku sudah tidak kaget
dengan drama perkuliahan. Aku sudah menyiapkannya sangat lama dan aku
pelan-pelan berusaha menerima diriku.
Jadi
anak kosan dan ngelakuin apa-apa serba sendiri dan nggak ribet juga salah satu
hal kenapa aku mulai lebih peduli sama diri aku sendiri. Karena semuanya
sendiri jadi jelas aku harus selalu fit, sehat, tabah, dan kuat. Siapa lagi
kalau bukan diri sendiri yang peduli?. Orang lain sebagai support system ajaa
yang bikin kita untuk tetap up dan nggak nyerah tapi yang lebih tau tentang
kebutuhan kita siapa? Jelas diri kita sendiri. Semenjak itulah aku mulai
semakin peduli dan sayang sama diriku sendiri. Mulai dari jaga kesehatan, atur
pola makan, jam istirahat, nyelesein tugas, on di kegiatan luar kampus sampai
zumba sekalipun. Zumba juga salah satu kegiatan yang anggap self-love karena
aku bisa happy waktu zumba, bisa ngeluarin semua energi-energi negatifku.
Semakin aku peduli dan sayang sama diri aku sendiri, semakin aku nggak peduli
apa kata orang lain tentang aku. Omongan mereka aku anggap angina lewat dan
bukan suatu masalah besar, selama aku melakukan hal yang benar dan nggak
merugikan siapa-siapa, peduli apa aku tentang pikiran mereka tentang aku?.
Sekarang
aku sedikit lebih percaya diri daripada sebelumnya. Aku nyaman dengan apa yang
aku pakai, apa yang aku lakukan untuk kebaikan diri aku tanpa harus meminta
persetujuan halayak ramai untuk ikut setuju dengan apa yang aku lakukan. Kita
diciptakan dengan berbagai perbedaan dan berada di bumi yang penuh dengan hal
yang berbeda-beda. Untuk apa malu menjadi beda, toh berbeda tapi dengan tujuan
yang positif. Berbeda itu udah biasa, kalah-menang juga hal biasa. Hidup tuh
pilihan yang semua-semuanya emang harus serba dipilih dan memilih. Mau milih
lebih baik atau buruk itu pilihan masing-masing. Kalau kita sayang sama diri
kita sendiri pasti mau yang terbaik buat diri sendiri. Kita juga tentu
dihadapkan sama pilihan yang nggak gampang dan tentunya tetap harus memilih
pada akhirnya dengan konsekuensi yang harus siap ditanggung.
Jadi
menurut aku self-love itu penting banget, nggak cuma buat cewek aja, tapi buat
semuanya. Semua orang termasuk kalian harus sayang dan peduli sama diri
sendiri. Karena setelah kalian bisa sayang sama diri kalian sendiri, kalian
pasti bisa menyanyangi orang lain, memberikan kasih sayang dan perhatian kalian
ke orang lain disekitar kalian. Kalian pasti bakal ikhlas kasih perhatian dan
ada perasaan bangga tersendiri bagi kalian. Jangan pernah takut dibilang “beda”
dengan kalian apa adanya dan mencintai diri kalian sendiri.


Komentar
Posting Komentar